Politik Kekuasaan dan Politik Gagasan

seruyuk.id
3 Min Read
Ady Kurniawan

Potret Panggung politik yang tampak saat ini hanya mempertontonkan pertarungan untuk meraih kekuasaan dan banyak menampilkan gimmick politik semata. Sangat jarang terdengar gagasan yang lahir dalam setiap percakapan, melainkan hanya slogan yang bertebaran dimana-mana.

James Freeman Clarke pernah mengungkapkan perbedaan mendasar antara politikus dan negarawan: “Perbedaan antara politikus dan negarawan adalah bahwa politikus berpikir tentang pemilu berikutnya, sementara negarawan memikirkan generasi masa depan.” Pandangan ini sangat relevan dengan kondisi politik saat ini. Banyak politikus yang terobsesi dengan kekuasaan cenderung mengabaikan prinsip etika demi meraih kemenangan, sehingga dalam konteks ini politik sering kali diartikan dengan cara yang sederhana “siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.”

Godaan kekuasaan sulit dihindari, dan hanya elite politik yang mampu menahan godaan yang akan bertahan. Ibn Khaldun dalam The Muqaddimah mengingatkan bahwa kekuasaan yang tidak dijalankan dengan amanah akan membawa kerusakan. Banyak elit politik yang awalnya menunjukkan kebersamaan, justru terpisah setelah meraih kekuasaan, enggan berbagi dan lebih memilih melestarikan kekuasaan dalam lingkaran dan keluarganya.

Politik Gagasan atau Politic of Ideas merupakan praktik politik yang mengedepankan gagasan sebagai komoditas utama yang ditawarkan kepada publik sekaligus mejadi agenda utama perjuangan. Politik gagasan bukan politik yang mengedepankan persamaan identitas, faktor kedekatan, atau aspek nonrasional lainnya. Politik Gagasan juga tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, tetapi alat untuk mencapai tujuan.

Sejarah terbentuknya negara kita saja berakar pada gagasan-gagasan visioner dari para founding fathers. Seperti yang diungkapkan oleh Benedict Anderson didalam bukunya Imagined Communities, Indonesia itu terbentuk dari gagasan masyarakat yang tidak akan pernah bisa menyatu sebenarnya, jika kita melihat beragam perbedaan dari latar belakang suku, golongan, ras dan agama. Akan tetapi ketika para pendiri bangsa melahirkan gagasan narasi persatuan dan kesatuan yang disebut Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terwujud.

Konten ide dan gagasan yang menjadi prioritas utama sudah seharusnya masuk kedalam ruang politik kita hari ini dan menjadi indikator kepentingan dalam setiap pencalonan kepala daerah, wakil rakyat, maupun pemimpin negara. Masyarakat dan negara membutuhkan pemimpin yang memiliki inovasi, gagasan dan kemajuan dalam berpikir. Level politik kita harus naik kelas, politik kita tidak lagi berada hanya dalam ranah pencitraan semata, popularitas/viralitas, atau bahkan ranah politik uang.

Dengan sistem Pilkada langsung, pencitraan politik elit menjadi dominan, meskipun banyak masalah mendasar seperti kemiskinan, konflik agraria, dan pengelolaan kota yang memerlukan solusi konkret. Diskusi publik sering terjebak dalam pertanyaan “siapa mendapatkan apa,” alih-alih menyentuh isu-isu penting.

Kita perlu mengangkat politik berbasis gagasan ke dalam arena politik, sebagai upaya merekonstruksi demokrasi dan menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat. Pemilu bukan hanya tentang memenangkan pertarungan dan meraih kekuasaan, tetapi membangun sebuah harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Penulis : Ady Kurniawan.

Share This Article