TANJUNG SELOR – Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara No. 03/01/65/Th. 2025 tertanggal 2 Januari 2025, dinamika signifikan terjadi pada aktivitas ekspor dan impor di wilayah ini selama November 2024.
Nilai total ekspor Kalimantan Utara pada November 2024 tercatat sebesar USD 126,91 juta, turun drastis 41,45 persen dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai USD 216,76 juta. Penurunan ini disebabkan oleh kinerja ekspor hasil tambang yang melemah hingga 46,55 persen, disusul penurunan hasil industri sebesar 21,14 persen, dan sektor pertanian yang terjun bebas hingga 61,96 persen.
Secara kumulatif, total ekspor non-migas dari Januari hingga November 2024 mencapai USD 2,41 miliar, turun 9,46 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, nilai impor Kalimantan Utara justru mengalami lonjakan signifikan sebesar 38,68 persen, meningkat dari USD 40,52 juta pada Oktober 2024 menjadi USD 56,20 juta pada November. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan impor hasil industri yang naik sebesar 39,57 persen.
Secara total, nilai impor selama Januari hingga November 2024 tercatat sebesar USD 839,07 juta, meningkat 41,11 persen dibanding periode yang sama pada 2023.
Meski neraca perdagangan Kalimantan Utara tetap mencatatkan surplus sebesar USD 70,71 juta pada November 2024, nilainya turun tajam 59,88 persen dibandingkan Oktober yang mencatat surplus USD 176,24 juta. Kondisi ini mencerminkan tekanan besar akibat penurunan ekspor di tengah lonjakan impor.
China, Filipina, Korea Selatan, Malaysia, dan Jepang menjadi lima negara utama tujuan ekspor Kalimantan Utara pada November 2024, menyumbang 87,33 persen dari total nilai ekspor. Di sisi impor, produk non-migas berasal terutama dari China, Singapura, dan Vietnam, dengan kontribusi 74,87 persen dari total impor.
Laporan ini menyoroti perlunya strategi diversifikasi sektor ekonomi untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas tertentu serta meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional. Di tengah tantangan global, upaya peningkatan nilai tambah ekspor menjadi kunci untuk mempertahankan stabilitas ekonomi daerah.