Seruyuk.id – Sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada 21 Desember 2021 proyek Pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI), di Lokasi Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) dan dijadikan sebagai green industrial park terbesar di dunia menjadi produk hijau yang akan menjadi simbol transformasi ekonomi dan hilirisasi industri.
Terdiri dari 4 Kelompok Nelayan melakukan aksi protes Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri Hijau Indonesia di Tanah Kuning-Mangkupadi, Kabupaten Bulungan, Rabu (29/5/2024).
Adapun pembangunan di KIPI masih tahap konstruksi. Keriuhan di area lokasi proyek masih sama, berkutat di urusan aktivitas kelompok nelayan bagan terganggu, peluang tenaga kerja yang tidak merata, pembebasan lahan dan penyerobotan lahan tanpa ganti rugi.
Masyarakat mengklaim bahwa KIPI belum pernah melakukan sosialisasi terkait Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). Kemudian belum ada informasi jelas mengenai rencana relokasi warga atau peningkatan kesejahteraan Masyarakat di area PSN.
Sejak awal pembangunan, wilayah tangkap nelayan mulai dibatasi oleh perusahaan. Beberapa area yang dibatasi merupakan tempat di mana ikan sering berkumpul, yang berdampak langsung pada penghasilan nelayan.
Nelayan Bagan, yang beroperasi malam hari menggunakan jaring dan lampu sorot, turut merasakan dampak negatif. Cahaya terang dari lampu sorot di area pembangunan KIHI mempengaruhi hasil tangkapan mereka, yang biasanya maksimal saat malam tanpa sinar bulan. Akibatnya, pendapatan nelayan terus menurun.
“Bagan saya pernah ditabrak kapal tongkang hingga roboh, lampu kapal terlalu terang sehingga ikan berkumpul di dekat kapal, dan kapal-kapal membuang limbah di sekitar bagan. Kami, khawatir bagan kami ditabrak lagi dan tidak ada yang bertanggung jawab,” keluhnya Jumar kelompok nelayan yang protes.
Kapolsek Tanjung Palas Timur, IPTU Firman Arifai, hadir ditengah-tengah aksi untuk memediasi dan berjanji menyelesaikan persoalan ini dalam sepekan.
“Kami siap memfasilitasi penyelesaian persoalan ini,” kata IPTU Firman. Pihaknya memastikan dalam sepekan persoalan ini bisa terselesaikan.
Saya sepenuhnya tak percaya dengan polisi yang bertugas di Tanjung Palas Timur dan Indonesia pada umumnya
Mereka semua menjadikan KIHI sebagai ladang pendapatan mereka. Jadi sangat mustahil jika mereka mengatakan berkomitmen menyelesaikan persoalan ini..